Bengkulu – Konsumsi produk-produk halal, akan menjadi segmen bisnis menjanjikan. Pemerintah Indonesia sudah melirik ke sektor ini. Salah satunya, aktifitas ekonomi syariah; dengan didirikannya Bank Syariah Indonesia atau BSI, menjadi sinyalemen akan pengaruh bisnis di sektor ini. Selain, turut menekan pola monopolistik lewat sistem konvensional sampai dengan praktik rente yang terus berevolusi dan menjadi pemicu krisis sosial ekonomi di masyarakat.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, turut menyadur paparan Global Islamic Economic Report 2020/2021 mencatat konsumen muslim dunia membelanjakan hingga USD2,02 triliun untuk produk-produk halal, seperti makanan minuman, wisata halal, obat-obatan dan kosmetik, dan gaya hidup halal lainnya. Ini tentu bisa menjadi target pasar bagi Indonesia. Pemerintah merespon hal ini dengan menyiapkan tiga lokasi industri untuk mengembangkan ekosistem industri halal dengan harapan nantinya bisa menjadi halal hub internasional di Indonesia (the Cikande Modern Industrial Estate di Serang Banten, The Safe and Lock Industrial Estate di Sidoarjo Jawa Timur, dan The Bintan Core Halal Hub Industrial Estate di Bintan Kepulauan Riau).

“Pengembangan produk-produk halal akan difokuskan pada tiga prioritas. Pertama, pengembangan infrastruktur dan klaster industri halal sebagai kontributor ekonomi nasional. Kedua, pengembangan standar halal yang komprehensif atau Halal Assurance System (HAS) untuk mendukung akselerasi perkembangan produk halal nasional. Ketiga, peningkatan kontribusi industri halal kepada neraca perdagangan nasional,” terang Sri Mulyani disadur dari laman instagram miliknya @smiindrawati, dengan centrang biru, kemarin.

Turut disampaikan pula, riset terkait produk-produk halal juga sangat diperlukan dan saat ini Indonesia telah memiliki sembilan pusat riset pada ilmu halal, lebih dari 58 program studi ekonomi Islam dan halal, dan lebih dari ribuan peneliti yang punya spesialisasi di bidang ekonomi Islam dan industri halal.

“Dengan perkembangan yang sangat baik, saya yakin Indonesia akan mampu menjadi benchmark produk halal bagi negara-negara lain,” tandasnya menyitir poin-poin 9th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF) 2021 yang diselenggarakan 17 November lalu. (way)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.