Bengkulu Utara – Perburuan investor karet, masih menjadi pekerjaan rumah Pemda Bengkulu Utara (BU). Hamparan karet penduduk yang memungkinkan untuk menyuplai kebutuhan produksi setidaknya 3 pabrik, agaknya masih diupayakan daerah untuk dilirik investor. Hengkangnya PT Bengkulu Mas Sejahtera (BMS), kini ada PT Bumi Anugerah Sawit (BAS) yang diketahui sudah mendirikan fasilitas pabrik dengan kepasitas 45 ton/jam, dikabarkan turut melirik potensi karet di daerah yang acap menjadi bulan-bulanan monopoli harga.

Kepala Dinas Penanaman Modal (DPM) BU, Margono, S.Pd, menyampaikan, urungnya PT BMS berinvestasi bukan lantaran birokrasi di daerah. Tapi karena adanya dissinkronisasi regulasi lintas kementerian, khususnya soal kewajiban keberadaan kebun inti minimal 20 persen dari total produksi pabrik setahunnya itu. Pemda BU, terus dia, sejak awal memberikan pelayanan sesuai dengan kewenangan dan menurutnya turut diapresiasi oleh investor karet itu.

“Masih ada (investor lirik karet penduduk,red). Cuma masih tahapan penjajakan,” kata Margono di kantornya, kemarin.

Produksi karet penduduk di daerah yang bisa menyuplai 2 hingga 3 pabrik di daerah ini, menurut Margono, menjadi salah satu kelebihan bagi investor, manakala berminat untuk berinvestasi di daerah yang kini setidaknya menyebar 154 perusahaan-perusahaan dengan ragam segmen bisnisnya itu, sudah melalui hitungan teknis. Keberadaan pabrik karet di daerah, juga akan berimplikasi pada harga beli karet di tingkat petani yang tidak lagi dibayangi soal tingkat penyusutan hingga jarak tempuh.

“Karena itu, daerah membuka seluas-luasnya kesempatan berinvestasi di Bengkulu Utara” pungkasnya. (way)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.